twitter
rss


Baru-baru ini saya dikagetkan oleh sebuah fakta baru penelitian bahwa ternyata musik klasik tidak memiliki pengaruh apapun terhadap kemampuan kognitif seorang anak. Itu artinya, mendengarkan musik klasik tidak mencerdaskan anak sebagaimana yang selama ini kita tahu. Selama lebih dari 15 tahun, kita terkecoh oleh publisitas yang banyak membesar-besarkan tentang musik klasik yang dapat memacu kecerdasan seorang anak. Dulu, sebelum saya mengenal banyak keajaiban Al-Qur’an, saya cenderung memegang pendapat bahwa musik klasik dapat merangsang perkembangan otak janin dan mencerdaskan anak. Tapi, beberapa tahun kemudian, saya mulai berpikir, jika mozart yang ciptaan manusia saja bisa mencerdaskan anak, maka tentu Al-Qur’an yang merupakan mukjizat yang telah Allah berikan kepada kita ini lebih dapat mencerdaskan anak.
Dan ternyata itu benar.
Beberapa orang peneliti dari University of Vienna, Austria yakni 

Bagi sebagian anak, belajar matematika adalah sebuah momok yang menakutkan. Betapa sulitnya, betapa tidak mudahnya. Sering kali karena merasa sulit, anak-anak menjadi malas belajar matematika dan bahkan lari.

Para orangtua dan pendidik telah mencoba berbagai cara untuk mengajarkan matematika kepada anak-anak dan peserta didik mereka. Dan dari sekian banyak metode, pendekatan yang paling memberikan hasil paling mengejutkan adalah pendekatan yang dilakukan dengan metodeGlenn Doman, yaitu Dot Method. Dan ternyata, metode ini dapat diajarkan sejak bayi dan telah membuahkan hasil yang sangat menakjubkan!


“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Mengapa kita perlu mengajarkan Al-Qur’an dan mendorong anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an?

  • untuk mendapatkan ridho Allah
  • untuk mendapatkan ketenangan hidup


Sebagai orangtua, kita tidak bisa (dan sebaiknya tidak) memaksakan anak untuk belajar tanpa melihat dan mengukur kemampuan dan juga berdasarkan usianya. Anak-anak di usia dini, meskipun mereka cerdas dan punya kemampuan baik, tetap saja kita perlu menimbang usia mereka. Jangan sampai kita membuat mereka tidak enjoy, tertekan, bahkan akhirnya tidak mau belajar.
Berikut ini adalah beberapa tahapan dalam mengajarkan membaca pada anak, yang disesuaikan dengan tingkatan usianya.


Semua orang hampir bisa dipastikan pernah mengalami apa yang disebut rasa cemas, gelisah, khawatir, dan panik. Rasa cemas adalah bagian dari emosi normal manusia. Anak-anak cemas saat di hari pertama mereka harus pergi sekolah, di kemudian hari ia cemas karena harus menghadapi ujian, orang dewasa cemas saat menanti hari pernikahannya, atau cemas saat harus membuat sebuah keputusan penting, dsb.
Tapi, rasa cemas ternyata bisa menjadi gangguan yang sangat parah dan melelahkan dalam kondisi tertentu. Ini bukan lagi rasa cemas yang normal. Gangguan ini sering disebut Anxiety Disorders dalam istilah psikologinya.
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan anxiety disorders itu? Bagaimana gejalanya? Dan bagaimana mengatasinya?
Anxiety disorders adalah sebuah penyakit mental yang serius. Orang dengan gangguan ini biasanya memiliki rasa cemas yang besar dan berlebihan, dan sering kali rasa cemas ini melumpuhkannya.
Beberapa jenis anxiety disorders yang bisa kita jumpai adalah:
Panic disorders. Orang-orang dengan gangguan kepanikan ini biasanya sering merasa diteror secara tiba-tiba dan terjadi berulang kali. Mereka sering kali mudah berkeringat, merasakan sakit di dada, palpitasi (detak jantung tidak teratur), dan perasaan tersedak, yang dapat membuat seseorang merasa seperti sedang mengalami serangan jantung.